TIPS DAHSYAT DAN JITU LOLOS SNMPTN
Wednesday, July 15, 2015
TIPS SUPER DAHSYAT DAN JITU LOLOS SNMPTN
“TIPS DAHSYAT DAN JITU LOLOS SNMPTN”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirrabbil Aalaamiin...
Segala puji bagi Allah, penulis masih diberikan kesehatan dan panjang umur. Sungguh, nikmat yang luar biasa untuk kita syukuri
Tidak terasa kita sudah berada di bulan Ramadhan 1436 Hijriyah. Rasanya baru kemarin penulis menyapa anda dengan kiriman motivasi dan artikel yang kiranya bermanfaat. Ya, baiklah, hari ini saya menulis beberapa pengalaman yang saya rangkum dalam penulisan ini.
Semua orang tentu berbeda upaya dalam meraih sukses. Tidak sedikit diantara mereka yang gagal lantaran kendala dan tidak banyak yang meraih keberhasilan. Sahabat, anda pasti pernah merasakan sakit. Ada sakit hati karena tidak lulus Ujian Nasional, tidak lulus masuk perguruan tinggi negeri favorit, dikhianati pacar dan sebagainya. Semuanya itu tentu menyakitkan bukan? Namun ketahuilah, dibalik itu semua tentu ada hikmah yang dapat kita ambil.
Nah, berhubung kita bicara masalah sukses, maka sasaran penulis sebenarnya adalah calon-calon orang sukses, terutama para remaja. Saya paham betul tentang seluk beluk kehidupan remaja zaman sekarang. Ketika gagal dalam menjalin asmara atau istilahnya putus cinta, sulit move on. Halo, kemana aja, hari gini memikirkan move on? Oke, tidak apa-apa sih, tapi jangan berlarut-larut juga dalam kegalauan ya. Sebenarnya kenapa kita bicarakan cinta? Bukankah topik kita sekarang tentang kesuksesan? Oh, ya penulis hampir lupa.
Langsung saja, kita tentu paham dong apa itu jalur SNMPTN? Apa? Belum paham juga? Apa pura-pura tidak tahu ya? Kalau tahu, SNMPTN adalah singkatan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri dimana setiap calon mahasiswa dan mahasiswi yang selajutnya dinyatakan lulus Ujian Sekolah dan Ujian Nasional SLTA/Sederajat yang telah mempunyai NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dan Kata Sandi (Password) yang diberikan dari pihak sekolah berkesempatan menduduki kursi sesuai jurusan dan Perguruan Tinggi Negeri yang dipilih dengan sistem penilaian dari pihak panitia SNMPTN yang mempertimbangkan : Nilai Rapor dari semester 1 sampai 5, Prestasi yang dimiliki pendaftar (Piagam yang diupload dengan discan terlebih dahulu, tetapi jika ada), Nilai Ujian Nasional, Indeks Prestasi Sekolah, Akreditasi Sekolah dan alumni dari sekolah yang sebelumnya ada yang diterima di jalur SNMPTN.
Begitulah pengertian saya tentang SNMPTN, silahkan nilai sendiri antara mendetail atau tidak, antara memuaskan atau berbelit-belit. Tapi begitulah SNMPTN, pada intinya ini adalah jalur undangan yang tidak semua orang bisa masuk. Mulai dari orang yang pintar, setengah pintar, pintar keblinger semuanya ada peluang diterima. Banyak yang terjadi, orang yang cerdas di kelas, mendapat rangking lima besar atau bahkan tiga besar ternyata tidak lolos SNMPTN. Ada pula, orang yang mempunyai puluhan sertifikat, rajin masuk sekolah ternyata hasil seleksi mengatakan “Anda tidak diterima masuk PTN melalui jalur SNMPTN.” Namun, ada seorang siswa yang biasa-biasa saja, ada alpanya, sering mengantuk di kelas ternyata dinyatakan lolos SNMPTN. Anda pasti menilai ini semua ironis bukan? Tunggu dulu, anda tidak bisa mendakwa seratus persen ini adalah hal yang ironis karena sesungguhnya ini bukan hal yang ironis. Kenapa saya mengatakan seperti ini? Ya, karena orang-orang yang dibilang pintar bahkan super cerdas di kelas, sebenarnya banyak yang salah mengambil keputusan memilih jurusan dan perguruan tinggi negeri.
Ada suatu kisah diambil dari survei acak, kami beri contoh seorang anak bernama Andi. Banyak yang mengatakan Andi anak yang pintar, cerdas dan rajin sekolah bahkan ini sudah menjadi buah bibir di lingkungan sekolah dan desa Andi. Dilihat dari nilai rapornya sebenarnya nilainya bagus. Nilai tertingginya sebenarnya adalah Biologi, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Dalam hal teori dan praktek memang bisa dibilang Andi lebih menonjol dan unggul dalam 3 mata pelajaran tersebut. Sayangnya, karena desakkan orang tua agar anaknya bisa menjadi pengacara, maka Andi pun memilih program studi hukum di Universitas Gadjah Mada. Padahal, kalau dipikir-pikir, Andi telah mengorbankan jurusan IPA. Karena jurusan hukum adalah jurusan IPS. Tetapi baginya itu hal yang sepele. Disinilah letak kesalahan pertama yang jarang diketahui banyak orang. Memang, jurusan IPA bisa lintas jurusan ke IPS. Namun, kalau kita bisa mengerti, peluang masuk jurusan hukum bagi anak jurusan IPS sangat besar ketimbang anak IPA karena panitia SNMPTN memprioritaskan anak IPS untuk masuk sesuai jurusannya.
Andi ternyata memilih jurusan hukum Universitas Gadjah Mada sebagai pilihan pertama. Dia tidak mempertimbangkan masak-masak. Kesalahan yang kedua adalah karena tidak berkonsultasi pada guru BK (Bimbingan Konseling). Pasti di setiap sekolah tentu hadir guru BK. Namun rupanya tidak dimanfaatkan untuk bertanya soal pilihan jurusan dan resiko selanjutnya. Kesalahan yang ketiga terletak pada kesalahpahaman orang tua, keegoisan orang tua pada Andi. Sebenarnya inilah kesalahan terbesar yang harus diketahui. Kesalahan selanjutnya adalah dari Andi sendiri. Ya, karena asal-asalan memilih jurusan, Andi tidak mempertimbangkan mana jurusan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan. Tak jarang dalam memilih jurusan, hal ini membuat kerumitan sehingga berujung kegalauan. Maka, ketika pengumuman SNMPTN itu berkumandang, Andi stres berat. Padahal jauh-jauh hari ia berambisi kuat dan optimisme yang super bahwa dia akan diterima. Tetapi sayangnya ia gagal masuk SNMPTN.
Selanjutnya, ada anak bernama Yahmin. Dia tidak pintar, sering absen, tetapi masih punya tekad dan semangat. Mungkin saja dia terlihat biasa saja, tetapi soal pemahaman masih bisa diandalkan. Ya, itu karena dia cerdas, tetapi tidak pintar. Dia memikirkan matang-matang jurusan yang akan dipilih dengan bijaksana. Sebulan sebelum pendaftaran SNMPTN dia melobi guru Bknya. Dengan berani ia berhadapan empat mata. Tidak gugup, tetapi mantap dia yakin ketika mendengar kritik dan saran dari guru BK. Dia telah bermusyawarah dengan orang tuanya, hasilnya ia yang putuskan sendiri. Orang tuanya tidak berani mengekang sebab dia bersikap tegas. Dia mengenali musuh-musuhnya jika dia memilih jurusan hukum dan Universitas Gadjah Mada sebagai pilihan pertama. Dia yakin akan kalah sebelum berperang. Tapi dia punya potensi dan mengenali diri sendiri akan bakat, minat dan kemampuan yang dia miliki. Yahmin senang berinteraksi dengan orang lain. Dia mudah bergaul dan akrab dengan siapa saja. Kalau sedang berbicara, teman-temanya senang mendengarkannya. Dia terkenal suka berdiskusi dan sebenarnya aktif. Ia rasanya mempunyai jiwa seorang guru. Maka dari situlah ia memutuskan untuk masuk jurusan Pendidikan. Setelah berpikir panjang, pada saat pendaftaran SNMPTN, Yahmin dengan mantap mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, kemudian dia memilih Universitas Negeri Yogyakarta. Jurusan itulah sebagai pilihan pertamanya pada SNMPTN. Yahmin sebenarnya tidak terlalu optimis, tidak juga pesimis. Ia tidak mau ambil pusing dan tetap tenang seandainya tidak lolos, tapi merasa beruntung dan bersyukur ketika diterima. Akhirnya hari pengumuman hasil SNMPTN keluar, Yahmin merasa girang ketika mendapat background warna hijau. Tidak hanya itu, di situ tertulis “Selamat anda lulus SNMPTN, program studi dan perguruan tinggi dimana anda diterima adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Universitas Negeri Yogyakarta.
Apa yang dapat kita petik dari dua kisah diatas, yakni Andi dan Yahmin? Tentu anda tahu bukan? Dari situlah Dari kisah itu tentu kita bisa memetik pelajaran berharga. Keberuntungan tidak mengenal pintar ataupun bodoh, melainkan karena faktor “BEJO” itu sendiri. Yang terpenting adalah kenali dirimu, kenali musuhmu.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semoga bermanfaat dan boleh dishare. Jangan lupa mencantumkan sumbernya.
Tangerang Selatan, 05 Juli 2015
Penulis,
A.Dirham
Subscribe to:
Posts (Atom)